Arus Kas 18 Juli 2026

Cara Membuat Anggaran Usaha Bulanan yang Simpel dan Realistis

Bingung bikin anggaran usaha? Ini cara membuat anggaran bulanan yang praktis untuk UMKM — lengkap dengan contoh angka supaya langsung bisa dicoba.

Ditulis oleh Tim Loonas
Ilustrasi artikel Cara Membuat Anggaran Usaha Bulanan yang Simpel dan Realistis

Cara Membuat Anggaran Usaha Bulanan yang Simpel dan Realistis

Pernah nggak, di tanggal 20-an kamu tiba-tiba panik karena uang usaha mepet tapi bulan belum habis? Sewa belum bayar, stok mau habis, tapi di rekening cuma cukup buat seminggu ke depan. Perasaan itu tidak enak — dan sebenarnya bisa dicegah.

Jawabannya bukan kerja lebih keras atau jualan lebih banyak. Jawabannya lebih sederhana: anggaran usaha.

Banyak pemilik UMKM menghindari kata ini karena terdengar ribet, seperti laporan keuangan perusahaan besar. Padahal cara membuat anggaran usaha itu bisa sesederhana daftar belanja bulanan — tapi untuk usahamu.

Apa Itu Anggaran Usaha?

Anggaran usaha adalah rencana tertulis: bulan depan kamu perkirakan akan dapat uang masuk berapa, dan keluar berapa untuk apa. Itu saja.

Manfaatnya langsung terasa: kamu tahu dari awal apakah rencana bulan depan “masuk akal” secara angka, atau apakah kamu sedang menuju bulan yang berat. Kalau tahu dari awal, kamu masih bisa sesuaikan — kurangi pengeluaran yang bisa ditunda, atau usahakan pemasukan tambahan.

Kalau tidak ada anggaran, kamu baru tahu masalahnya saat sudah terjadi. Dan di situ, pilihan sudah jauh lebih sempit.

Cara Membuat Anggaran Usaha Langkah per Langkah

Langkah 1: Perkirakan Pemasukan Bulan Depan

Mulai dari yang paling kamu tahu: berapa kira-kira pemasukan usahamu bulan depan?

Jangan perkirakan terlalu optimis. Pakai angka yang realistis — rata-rata pemasukan 2-3 bulan terakhir adalah titik mulai yang baik.

Contoh: Warung makan Pak Joko. Rata-rata omzet 3 bulan terakhir Rp 18 juta per bulan. Jadi perkiraan pemasukan bulan depan: Rp 18.000.000.

Kalau ada event atau momen tertentu (misalnya mau ada arisan besar di kampung, atau sebaliknya liburan panjang yang biasanya sepi), sesuaikan.

Langkah 2: Daftar Semua Pengeluaran Tetap

Pengeluaran tetap adalah yang pasti keluar setiap bulan, angkanya kurang lebih sama. Ini yang paling mudah diperkirakan:

Pos PengeluaranJumlah
Sewa tempatRp 2.500.000
Gaji karyawan (2 orang)Rp 4.000.000
Listrik & airRp 600.000
Langganan platform pesan antarRp 200.000
Total pengeluaran tetapRp 7.300.000

Langkah 3: Perkirakan Pengeluaran Variabel

Pengeluaran variabel adalah yang berubah tergantung aktivitas usaha — terutama modal bahan baku atau stok.

Untuk warung makan, biaya bahan baku biasanya 35–45% dari omzet. Kalau omzet Rp 18 juta dan persentase bahan baku 40%, maka:

Biaya bahan baku = 40% × Rp 18.000.000 = Rp 7.200.000

Tambahkan pengeluaran variabel lain:

Pos PengeluaranJumlah
Bahan baku / stokRp 7.200.000
Kemasan & perlengkapan kecilRp 300.000
Bensin / transportasiRp 400.000
Total pengeluaran variabelRp 7.900.000

Langkah 4: Hitung Sisa Anggaran

Sekarang kamu punya gambaran lengkap:

Jumlah
Perkiraan pemasukanRp 18.000.000
Pengeluaran tetapRp 7.300.000
Pengeluaran variabelRp 7.900.000
Sisa (sebelum ambil gaji pemilik)Rp 2.800.000

Sisa Rp 2.800.000 ini belum termasuk gaji Pak Joko sendiri sebagai pemilik — yang sering dilupakan saat bikin anggaran. Kalau Pak Joko butuh minimal Rp 3 juta per bulan untuk kebutuhan pribadi, anggarannya sudah minus Rp 200.000 sebelum bulan mulai. Ini sinyal bahwa Pak Joko perlu naikkan omzet, kurangi biaya, atau sesuaikan ekspektasi penghasilan pribadinya.

Itulah gunanya anggaran — kamu tahu ini di awal bulan, bukan di tanggal 25.

Langkah 5: Pantau Realisasi vs Anggaran

Anggaran yang dibuat tapi tidak dipantau sama saja dengan tidak ada anggaran. Sekali seminggu, bandingkan:

  • Pemasukan aktual vs yang dianggarkan
  • Pengeluaran aktual vs yang dianggarkan

Kalau ada yang meleset jauh, kamu bisa sesuaikan sisa bulan berjalan sebelum terlambat.

Berapa Persen untuk Setiap Pos?

Tidak ada aturan baku yang berlaku untuk semua jenis usaha, tapi ini gambaran umum yang bisa dijadikan patokan awal:

PosKisaran % dari Omzet
Bahan baku / HPP35–50%
Gaji karyawan15–25%
Sewa & utilitas5–15%
Marketing & lain-lain3–8%
Gaji pemilik + sisa usaha10–20%

Kalau salah satu pos di usahamu jauh di atas kisaran ini, itu sinyal untuk ditelisik lebih dalam.

Anggaran Bukan untuk Dikubur di Laci

Banyak yang bikin anggaran di awal bulan lalu lupa. Supaya anggaran benar-benar berguna, kamu perlu sering melihatnya — minimal seminggu sekali. Dan untuk bisa membandingkan anggaran vs realisasi, kamu perlu catatan pengeluaran dan pemasukan yang rapi.

Di sinilah kebiasaan catat setiap transaksi sangat membantu. Kalau semua pemasukan dan pengeluaran sudah kecatat secara rutin, rekap mingguan bisa kamu dapatkan tinggal minta — dan membandingkannya dengan anggaran jadi pekerjaan menit, bukan jam.

Mulai bulan depan, coba buat anggaran sesederhana tabel di atas. Tidak perlu sempurna dari awal — yang penting ada angka sebagai patokan. Revisi bulan berikutnya berdasarkan apa yang terjadi bulan ini. Lama-lama, anggaranmu akan semakin akurat, dan kamu akan jarang lagi kaget di tanggal 25.

Tanya di WhatsApp