Cara Membuat Anggaran Usaha Bulanan yang Simpel dan Realistis
Bingung bikin anggaran usaha? Ini cara membuat anggaran bulanan yang praktis untuk UMKM — lengkap dengan contoh angka supaya langsung bisa dicoba.
Cara Membuat Anggaran Usaha Bulanan yang Simpel dan Realistis
Pernah nggak, di tanggal 20-an kamu tiba-tiba panik karena uang usaha mepet tapi bulan belum habis? Sewa belum bayar, stok mau habis, tapi di rekening cuma cukup buat seminggu ke depan. Perasaan itu tidak enak — dan sebenarnya bisa dicegah.
Jawabannya bukan kerja lebih keras atau jualan lebih banyak. Jawabannya lebih sederhana: anggaran usaha.
Banyak pemilik UMKM menghindari kata ini karena terdengar ribet, seperti laporan keuangan perusahaan besar. Padahal cara membuat anggaran usaha itu bisa sesederhana daftar belanja bulanan — tapi untuk usahamu.
Apa Itu Anggaran Usaha?
Anggaran usaha adalah rencana tertulis: bulan depan kamu perkirakan akan dapat uang masuk berapa, dan keluar berapa untuk apa. Itu saja.
Manfaatnya langsung terasa: kamu tahu dari awal apakah rencana bulan depan “masuk akal” secara angka, atau apakah kamu sedang menuju bulan yang berat. Kalau tahu dari awal, kamu masih bisa sesuaikan — kurangi pengeluaran yang bisa ditunda, atau usahakan pemasukan tambahan.
Kalau tidak ada anggaran, kamu baru tahu masalahnya saat sudah terjadi. Dan di situ, pilihan sudah jauh lebih sempit.
Cara Membuat Anggaran Usaha Langkah per Langkah
Langkah 1: Perkirakan Pemasukan Bulan Depan
Mulai dari yang paling kamu tahu: berapa kira-kira pemasukan usahamu bulan depan?
Jangan perkirakan terlalu optimis. Pakai angka yang realistis — rata-rata pemasukan 2-3 bulan terakhir adalah titik mulai yang baik.
Contoh: Warung makan Pak Joko. Rata-rata omzet 3 bulan terakhir Rp 18 juta per bulan. Jadi perkiraan pemasukan bulan depan: Rp 18.000.000.
Kalau ada event atau momen tertentu (misalnya mau ada arisan besar di kampung, atau sebaliknya liburan panjang yang biasanya sepi), sesuaikan.
Langkah 2: Daftar Semua Pengeluaran Tetap
Pengeluaran tetap adalah yang pasti keluar setiap bulan, angkanya kurang lebih sama. Ini yang paling mudah diperkirakan:
| Pos Pengeluaran | Jumlah |
|---|---|
| Sewa tempat | Rp 2.500.000 |
| Gaji karyawan (2 orang) | Rp 4.000.000 |
| Listrik & air | Rp 600.000 |
| Langganan platform pesan antar | Rp 200.000 |
| Total pengeluaran tetap | Rp 7.300.000 |
Langkah 3: Perkirakan Pengeluaran Variabel
Pengeluaran variabel adalah yang berubah tergantung aktivitas usaha — terutama modal bahan baku atau stok.
Untuk warung makan, biaya bahan baku biasanya 35–45% dari omzet. Kalau omzet Rp 18 juta dan persentase bahan baku 40%, maka:
Biaya bahan baku = 40% × Rp 18.000.000 = Rp 7.200.000
Tambahkan pengeluaran variabel lain:
| Pos Pengeluaran | Jumlah |
|---|---|
| Bahan baku / stok | Rp 7.200.000 |
| Kemasan & perlengkapan kecil | Rp 300.000 |
| Bensin / transportasi | Rp 400.000 |
| Total pengeluaran variabel | Rp 7.900.000 |
Langkah 4: Hitung Sisa Anggaran
Sekarang kamu punya gambaran lengkap:
| Jumlah | |
|---|---|
| Perkiraan pemasukan | Rp 18.000.000 |
| Pengeluaran tetap | Rp 7.300.000 |
| Pengeluaran variabel | Rp 7.900.000 |
| Sisa (sebelum ambil gaji pemilik) | Rp 2.800.000 |
Sisa Rp 2.800.000 ini belum termasuk gaji Pak Joko sendiri sebagai pemilik — yang sering dilupakan saat bikin anggaran. Kalau Pak Joko butuh minimal Rp 3 juta per bulan untuk kebutuhan pribadi, anggarannya sudah minus Rp 200.000 sebelum bulan mulai. Ini sinyal bahwa Pak Joko perlu naikkan omzet, kurangi biaya, atau sesuaikan ekspektasi penghasilan pribadinya.
Itulah gunanya anggaran — kamu tahu ini di awal bulan, bukan di tanggal 25.
Langkah 5: Pantau Realisasi vs Anggaran
Anggaran yang dibuat tapi tidak dipantau sama saja dengan tidak ada anggaran. Sekali seminggu, bandingkan:
- Pemasukan aktual vs yang dianggarkan
- Pengeluaran aktual vs yang dianggarkan
Kalau ada yang meleset jauh, kamu bisa sesuaikan sisa bulan berjalan sebelum terlambat.
Berapa Persen untuk Setiap Pos?
Tidak ada aturan baku yang berlaku untuk semua jenis usaha, tapi ini gambaran umum yang bisa dijadikan patokan awal:
| Pos | Kisaran % dari Omzet |
|---|---|
| Bahan baku / HPP | 35–50% |
| Gaji karyawan | 15–25% |
| Sewa & utilitas | 5–15% |
| Marketing & lain-lain | 3–8% |
| Gaji pemilik + sisa usaha | 10–20% |
Kalau salah satu pos di usahamu jauh di atas kisaran ini, itu sinyal untuk ditelisik lebih dalam.
Anggaran Bukan untuk Dikubur di Laci
Banyak yang bikin anggaran di awal bulan lalu lupa. Supaya anggaran benar-benar berguna, kamu perlu sering melihatnya — minimal seminggu sekali. Dan untuk bisa membandingkan anggaran vs realisasi, kamu perlu catatan pengeluaran dan pemasukan yang rapi.
Di sinilah kebiasaan catat setiap transaksi sangat membantu. Kalau semua pemasukan dan pengeluaran sudah kecatat secara rutin, rekap mingguan bisa kamu dapatkan tinggal minta — dan membandingkannya dengan anggaran jadi pekerjaan menit, bukan jam.
Mulai bulan depan, coba buat anggaran sesederhana tabel di atas. Tidak perlu sempurna dari awal — yang penting ada angka sebagai patokan. Revisi bulan berikutnya berdasarkan apa yang terjadi bulan ini. Lama-lama, anggaranmu akan semakin akurat, dan kamu akan jarang lagi kaget di tanggal 25.