Contoh Laporan Laba Rugi Sederhana untuk UMKM + Cara Buatnya
Mau tahu untung atau rugi usahamu? Ini contoh laporan laba rugi sederhana untuk UMKM — format praktis, langsung bisa kamu pakai hari ini.
Laporan Laba Rugi Sederhana untuk UMKM: Contoh dan Cara Membuatnya
“Bulan ini kok rasanya rame terus, tapi uangnya ke mana ya?”
Kalau kamu pernah bertanya seperti itu, kamu bukan satu-satunya. Ini salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pemilik UMKM yang sudah sibuk jualan — tapi belum punya cara untuk melihat kondisi keuangan secara keseluruhan.
Jawabannya ada di satu dokumen: laporan laba rugi. Dan kabar baiknya, kamu tidak perlu jadi akuntan untuk bisa membuatnya.
Apa Itu Laporan Laba Rugi?
Laporan laba rugi adalah ringkasan sederhana dari satu pertanyaan: dalam periode tertentu, usahamu untung atau rugi, dan berapa?
Dokumen ini mencatat semua pemasukan dan semua pengeluaran dalam satu bulan (atau satu kuartal, atau satu tahun), lalu menghitung selisihnya. Kalau pemasukan lebih besar dari pengeluaran, kamu untung. Kalau sebaliknya, kamu rugi.
Dalam bahasa akuntansi resminya ini disebut “Laporan Laba Rugi” atau “Income Statement.” Tapi buat keperluan UMKM sehari-hari, versi sederhananya cukup untuk mengambil keputusan yang tepat.
Mengapa Ini Penting?
Tanpa laporan laba rugi, kamu hanya mengandalkan “rasa” — dan rasa sering menipu. Rekening yang terlihat penuh belum tentu artinya untung, bisa jadi itu uang yang sudah ada pemiliknya (untuk bayar supplier, untuk bayar sewa bulan depan).
Dengan laporan laba rugi, kamu bisa:
- Tahu dengan pasti apakah usaha menghasilkan keuntungan atau tidak
- Lihat pengeluaran mana yang paling besar dan perlu dikontrol
- Bandingkan kinerja bulan ini vs bulan lalu
- Punya data yang bisa kamu tunjukkan ke pasangan, mitra, atau siapapun yang ingin tahu kondisi usaha
Struktur Laporan Laba Rugi Sederhana
Untuk UMKM, struktur yang kamu butuhkan sesederhana ini:
Pendapatan
(-) HPP (Harga Pokok Penjualan)
= Laba Kotor
Laba Kotor
(-) Biaya Operasional
= Laba Bersih (sebelum pajak)
Tiga bagian utama: pendapatan, dikurangi HPP, dikurangi biaya operasional. Hasilnya adalah laba bersih.
Contoh Laporan Laba Rugi: Warung Bakso Mas Eko
Mas Eko punya warung bakso di Surabaya. Ini laporan laba ruginya untuk bulan Juni 2026:
LAPORAN LABA RUGI Warung Bakso Mas Eko — Juni 2026
| Keterangan | Jumlah |
|---|---|
| PENDAPATAN | |
| Penjualan bakso & minuman | Rp 22.500.000 |
| Total Pendapatan | Rp 22.500.000 |
| HARGA POKOK PENJUALAN (HPP) | |
| Daging sapi & bakso jadi | Rp 7.200.000 |
| Mie, tahu, sayuran | Rp 1.800.000 |
| Gas dan bumbu | Rp 900.000 |
| Total HPP | Rp 9.900.000 |
| LABA KOTOR | Rp 12.600.000 |
| BIAYA OPERASIONAL | |
| Sewa tempat | Rp 2.000.000 |
| Gaji 2 karyawan | Rp 3.600.000 |
| Listrik & air | Rp 450.000 |
| Gas (tambahan) | Rp 250.000 |
| Kemasan & sedotan | Rp 180.000 |
| Lain-lain | Rp 120.000 |
| Total Biaya Operasional | Rp 6.600.000 |
| LABA BERSIH | Rp 6.000.000 |
Dari laporan ini, Mas Eko bisa lihat dengan jelas: dari omzet Rp 22,5 juta, laba bersihnya Rp 6 juta — sekitar 26,7%. Margin ini bisa dia bandingkan bulan depan: apakah naik, turun, atau stagnan?
Cara Membuat Laporan Laba Rugi Sendiri
Langkah 1: Kumpulkan data pemasukan
Hitung total penjualan dalam satu bulan. Kalau kamu punya beberapa sumber pendapatan (jual di warung, jual online, katering), catat masing-masing. Di akhir, jumlahkan.
Langkah 2: Hitung HPP
Ingat rumus dari artikel HPP: untuk usaha dagang, HPP = persediaan awal + pembelian − persediaan akhir. Untuk usaha produksi, HPP = bahan baku + tenaga kerja langsung + overhead produksi.
Laba Kotor = Total Pendapatan − HPP.
Langkah 3: Catat semua biaya operasional
Biaya operasional adalah pengeluaran yang tidak langsung berkaitan dengan produksi, tapi tetap perlu untuk menjalankan usaha:
- Sewa tempat usaha
- Gaji karyawan (yang bukan bagian dari produksi langsung)
- Listrik, air, internet
- Biaya pemasaran (iklan, endorsement)
- Biaya administrasi
- Transportasi
- Lain-lain
Langkah 4: Hitung Laba Bersih
Laba Bersih = Laba Kotor − Total Biaya Operasional
Angka ini adalah “garis bawah” — keuntungan usaha sebelum pajak. Kalau positif, selamat — usahamu menguntungkan. Kalau negatif, ada yang perlu dievaluasi.
Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan
Pisahkan biaya usaha dan biaya pribadi. Ini hanya bisa dilakukan kalau keuangan usaha dan pribadi sudah dipisahkan. Kalau masih campur, angka di laporan ini tidak bisa dipercaya.
Lakukan setiap bulan, bukan setahun sekali. Laporan tahunan berguna, tapi laporan bulanan memberi kamu sinyal lebih cepat. Kalau bulan ini laba turun 30%, kamu bisa segera investigasi — bukan baru sadar setahun kemudian.
Jangan hanya lihat angka absolute — lihat tren. Laba Rp 6 juta bulan ini terasa bagus atau tidak? Tergantung konteksnya. Kalau bulan sebelumnya Rp 8 juta dan bulan ini Rp 6 juta, ada sesuatu yang perlu kamu cermati.
Laporan laba rugi bukan laporan pajak. Ini dua hal berbeda. Laporan laba rugi adalah untuk keputusan bisnis internal. Untuk keperluan perpajakan, ada ketentuan tersendiri — dan kamu tetap bertanggung jawab atas pelaporan pajakmu.
Dari Mana Data Ini Berasal?
Laporan laba rugi tidak bisa dibuat dari udara — datanya berasal dari catatan harian yang konsisten. Setiap penjualan, setiap pengeluaran, setiap struk belanja bahan — semua itu adalah bahan baku laporan ini.
Kalau setiap hari kamu catat transaksi dengan disiplin, membuat laporan laba rugi di akhir bulan tinggal soal menjumlahkan. Tapi kalau catatan harian bolong-bolong, angka di laporan pun tidak bisa diandalkan.
Ini yang Loonas bantu percepat: setiap transaksi yang kamu chat ke Loonas di WhatsApp — penjualan hari ini, struk belanja bahan baku, pembayaran tagihan — langsung masuk ke catatan. Akhir bulan, kamu tinggal minta: “Loonas, kasih rekap pendapatan dan pengeluaran Juni dong” — dan datanya sudah siap untuk kamu susun jadi laporan laba rugi.
Mulai dari laporan bulan ini. Meski sederhana, satu laporan yang selesai akan memberikan gambaran yang selama ini cuma bisa kamu tebak-tebak.