Pembukuan 29 April 2026

Contoh Laporan Laba Rugi Sederhana untuk UMKM + Cara Buatnya

Mau tahu untung atau rugi usahamu? Ini contoh laporan laba rugi sederhana untuk UMKM — format praktis, langsung bisa kamu pakai hari ini.

Ditulis oleh Tim Loonas
Ilustrasi artikel Contoh Laporan Laba Rugi Sederhana untuk UMKM + Cara Buatnya

Laporan Laba Rugi Sederhana untuk UMKM: Contoh dan Cara Membuatnya

“Bulan ini kok rasanya rame terus, tapi uangnya ke mana ya?”

Kalau kamu pernah bertanya seperti itu, kamu bukan satu-satunya. Ini salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pemilik UMKM yang sudah sibuk jualan — tapi belum punya cara untuk melihat kondisi keuangan secara keseluruhan.

Jawabannya ada di satu dokumen: laporan laba rugi. Dan kabar baiknya, kamu tidak perlu jadi akuntan untuk bisa membuatnya.

Apa Itu Laporan Laba Rugi?

Laporan laba rugi adalah ringkasan sederhana dari satu pertanyaan: dalam periode tertentu, usahamu untung atau rugi, dan berapa?

Dokumen ini mencatat semua pemasukan dan semua pengeluaran dalam satu bulan (atau satu kuartal, atau satu tahun), lalu menghitung selisihnya. Kalau pemasukan lebih besar dari pengeluaran, kamu untung. Kalau sebaliknya, kamu rugi.

Dalam bahasa akuntansi resminya ini disebut “Laporan Laba Rugi” atau “Income Statement.” Tapi buat keperluan UMKM sehari-hari, versi sederhananya cukup untuk mengambil keputusan yang tepat.

Mengapa Ini Penting?

Tanpa laporan laba rugi, kamu hanya mengandalkan “rasa” — dan rasa sering menipu. Rekening yang terlihat penuh belum tentu artinya untung, bisa jadi itu uang yang sudah ada pemiliknya (untuk bayar supplier, untuk bayar sewa bulan depan).

Dengan laporan laba rugi, kamu bisa:

  • Tahu dengan pasti apakah usaha menghasilkan keuntungan atau tidak
  • Lihat pengeluaran mana yang paling besar dan perlu dikontrol
  • Bandingkan kinerja bulan ini vs bulan lalu
  • Punya data yang bisa kamu tunjukkan ke pasangan, mitra, atau siapapun yang ingin tahu kondisi usaha

Struktur Laporan Laba Rugi Sederhana

Untuk UMKM, struktur yang kamu butuhkan sesederhana ini:

Pendapatan
  (-) HPP (Harga Pokok Penjualan)
= Laba Kotor

Laba Kotor
  (-) Biaya Operasional
= Laba Bersih (sebelum pajak)

Tiga bagian utama: pendapatan, dikurangi HPP, dikurangi biaya operasional. Hasilnya adalah laba bersih.

Contoh Laporan Laba Rugi: Warung Bakso Mas Eko

Mas Eko punya warung bakso di Surabaya. Ini laporan laba ruginya untuk bulan Juni 2026:

LAPORAN LABA RUGI Warung Bakso Mas Eko — Juni 2026

KeteranganJumlah
PENDAPATAN
Penjualan bakso & minumanRp 22.500.000
Total PendapatanRp 22.500.000
HARGA POKOK PENJUALAN (HPP)
Daging sapi & bakso jadiRp 7.200.000
Mie, tahu, sayuranRp 1.800.000
Gas dan bumbuRp 900.000
Total HPPRp 9.900.000
LABA KOTORRp 12.600.000
BIAYA OPERASIONAL
Sewa tempatRp 2.000.000
Gaji 2 karyawanRp 3.600.000
Listrik & airRp 450.000
Gas (tambahan)Rp 250.000
Kemasan & sedotanRp 180.000
Lain-lainRp 120.000
Total Biaya OperasionalRp 6.600.000
LABA BERSIHRp 6.000.000

Dari laporan ini, Mas Eko bisa lihat dengan jelas: dari omzet Rp 22,5 juta, laba bersihnya Rp 6 juta — sekitar 26,7%. Margin ini bisa dia bandingkan bulan depan: apakah naik, turun, atau stagnan?

Cara Membuat Laporan Laba Rugi Sendiri

Langkah 1: Kumpulkan data pemasukan

Hitung total penjualan dalam satu bulan. Kalau kamu punya beberapa sumber pendapatan (jual di warung, jual online, katering), catat masing-masing. Di akhir, jumlahkan.

Langkah 2: Hitung HPP

Ingat rumus dari artikel HPP: untuk usaha dagang, HPP = persediaan awal + pembelian − persediaan akhir. Untuk usaha produksi, HPP = bahan baku + tenaga kerja langsung + overhead produksi.

Laba Kotor = Total Pendapatan − HPP.

Langkah 3: Catat semua biaya operasional

Biaya operasional adalah pengeluaran yang tidak langsung berkaitan dengan produksi, tapi tetap perlu untuk menjalankan usaha:

  • Sewa tempat usaha
  • Gaji karyawan (yang bukan bagian dari produksi langsung)
  • Listrik, air, internet
  • Biaya pemasaran (iklan, endorsement)
  • Biaya administrasi
  • Transportasi
  • Lain-lain

Langkah 4: Hitung Laba Bersih

Laba Bersih = Laba Kotor − Total Biaya Operasional

Angka ini adalah “garis bawah” — keuntungan usaha sebelum pajak. Kalau positif, selamat — usahamu menguntungkan. Kalau negatif, ada yang perlu dievaluasi.

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

Pisahkan biaya usaha dan biaya pribadi. Ini hanya bisa dilakukan kalau keuangan usaha dan pribadi sudah dipisahkan. Kalau masih campur, angka di laporan ini tidak bisa dipercaya.

Lakukan setiap bulan, bukan setahun sekali. Laporan tahunan berguna, tapi laporan bulanan memberi kamu sinyal lebih cepat. Kalau bulan ini laba turun 30%, kamu bisa segera investigasi — bukan baru sadar setahun kemudian.

Jangan hanya lihat angka absolute — lihat tren. Laba Rp 6 juta bulan ini terasa bagus atau tidak? Tergantung konteksnya. Kalau bulan sebelumnya Rp 8 juta dan bulan ini Rp 6 juta, ada sesuatu yang perlu kamu cermati.

Laporan laba rugi bukan laporan pajak. Ini dua hal berbeda. Laporan laba rugi adalah untuk keputusan bisnis internal. Untuk keperluan perpajakan, ada ketentuan tersendiri — dan kamu tetap bertanggung jawab atas pelaporan pajakmu.

Dari Mana Data Ini Berasal?

Laporan laba rugi tidak bisa dibuat dari udara — datanya berasal dari catatan harian yang konsisten. Setiap penjualan, setiap pengeluaran, setiap struk belanja bahan — semua itu adalah bahan baku laporan ini.

Kalau setiap hari kamu catat transaksi dengan disiplin, membuat laporan laba rugi di akhir bulan tinggal soal menjumlahkan. Tapi kalau catatan harian bolong-bolong, angka di laporan pun tidak bisa diandalkan.

Ini yang Loonas bantu percepat: setiap transaksi yang kamu chat ke Loonas di WhatsApp — penjualan hari ini, struk belanja bahan baku, pembayaran tagihan — langsung masuk ke catatan. Akhir bulan, kamu tinggal minta: “Loonas, kasih rekap pendapatan dan pengeluaran Juni dong” — dan datanya sudah siap untuk kamu susun jadi laporan laba rugi.

Mulai dari laporan bulan ini. Meski sederhana, satu laporan yang selesai akan memberikan gambaran yang selama ini cuma bisa kamu tebak-tebak.

Tanya di WhatsApp