Pembukuan 1 April 2026

Cara Bikin Pembukuan Sederhana untuk UMKM (Tanpa Pusing)

Belum jago akuntansi tapi mau usahamu rapi? Ini cara bikin pembukuan sederhana UMKM dari nol — pakai bahasa warung, langkah per langkah.

Ditulis oleh Tim Loonas
Ilustrasi artikel Cara Bikin Pembukuan Sederhana untuk UMKM (Tanpa Pusing)

Cara Bikin Pembukuan Sederhana untuk UMKM (Tanpa Harus Jago Akuntansi)

Kamu jualan tiap hari, uang masuk, uang keluar. Tapi pas ada yang nanya, “Bulan ini untung berapa?” — kamu cuma bisa nebak. Kira-kira ada sisa di rekening, tapi entah itu untung beneran atau cuma uang yang belum kepakai.

Kalau ini kamu banget, tenang. Kamu nggak sendirian, dan kamu nggak butuh kuliah akuntansi buat beresinnya. Pembukuan sederhana itu sebenarnya cuma satu hal: tahu uang kamu pergi ke mana dan datang dari mana. Itu aja. Sisanya detail.

Di artikel ini kita bahas pelan-pelan, pakai bahasa sehari-hari, dari nol.

Kenapa pembukuan itu penting (padahal usahamu kelihatan jalan-jalan aja)

Banyak pemilik UMKM mikir, “Ah, usahaku masih kecil, ngapain ribet catat-catat.” Masalahnya, justru pas usaha masih kecil itulah satu kesalahan kecil bisa terasa besar.

Tanpa catatan, kamu nggak tahu:

  • Untung asli kamu berapa. Omzet Rp 30 juta sebulan kedengarannya enak, tapi kalau modal dan biaya operasional Rp 28 juta, untungmu cuma Rp 2 juta. Banyak yang kaget pas akhirnya dihitung.
  • Produk mana yang beneran nguntungin. Mungkin menu yang paling laku justru marginnya tipis, dan yang jarang laku malah paling untung.
  • Kapan kamu butuh rem. Uang di rekening kelihatan banyak, padahal sebagian itu titipan buat bayar supplier minggu depan.

Catatan yang rapi juga bikin kamu lebih siap pas musim lapor pajak, dan ke depan, bikin bisnismu kelihatan layak di mata bank kalau suatu hari mau ngajuin pinjaman. Tidur pun lebih nyenyak — karena kamu tahu posisimu, bukan nebak.

Lupakan dulu istilah-istilah berat. Pembukuan paling dasar cuma butuh tiga kolom:

  1. Tanggal — kapan transaksinya terjadi.
  2. Uang masuk (pemasukan) — penjualan, atau uang lain yang masuk.
  3. Uang keluar (pengeluaran) — beli bahan baku, bayar listrik, gaji, sewa, dan lain-lain.

Ini namanya metode pencatatan tunggal (single entry) — satu transaksi dicatat sekali. Cocok banget buat usaha kecil yang transaksinya belum ribet. Nggak perlu debit-kredit, nggak perlu jurnal akuntansi.

Contoh pembukuan paling sederhana

TanggalKeteranganMasukKeluarSaldo
1 JunModal awal5.000.0005.000.000
1 JunBeli bahan baku1.200.0003.800.000
1 JunPenjualan hari 1850.0004.650.000
2 JunBayar listrik300.0004.350.000
2 JunPenjualan hari 2920.0005.270.000

Kolom “Saldo” itu cuma hasil hitung: saldo sebelumnya + masuk − keluar. Dari tabel sesederhana ini, kamu udah bisa lihat uangmu naik-turun ke mana.

4 langkah memulai dari nol

1. Pisahkan uang usaha dan uang pribadi. Ini langkah paling penting dan paling sering dilewat. Kalau uang dagang dan uang dapur campur di satu dompet atau satu rekening, pembukuan serapi apa pun bakal kacau. Buka rekening terpisah buat usaha, atau minimal satu dompet khusus. Ini fondasinya.

2. Catat SETIAP transaksi, sekecil apa pun, di hari yang sama. Beli kantong plastik Rp 5.000? Catat. Dapat bayaran tunai dari pelanggan? Catat. Kuncinya bukan kerapian, tapi konsistensi. Catatan yang “lumayan rapi tapi rutin” jauh lebih berguna daripada catatan “sempurna tapi bolong tiga hari”.

3. Kelompokkan pengeluaran. Bikin kategori sederhana: bahan baku, gaji, sewa, listrik/air, transport, lain-lain. Nanti pas akhir bulan kamu bisa lihat, “Oh, ternyata transport makan 15% dari pengeluaranku.” Itu insight yang bikin kamu bisa ambil keputusan.

4. Tutup buku tiap akhir bulan. Sekali sebulan, jumlahkan total pemasukan dan total pengeluaran. Selisihnya = untung (atau rugi) bulan itu. Inilah laporan untung-rugi versi paling sederhana. Nggak perlu software mahal buat bikin ini.

Manual, Excel, atau cara yang lebih gampang?

Banyak panduan nyaranin mulai dari buku tulis atau Excel — dan itu nggak salah. Buku tulis enak buat yang baru mulai. Excel enak buat yang udah nyaman mainan rumus.

Tapi jujur aja: dua-duanya butuh disiplin tinggi. Kamu harus inget buka file, ngetik, ngitung, simpan — tiap hari, di tengah kesibukan jaga toko. Banyak pembukuan UMKM “mati” bukan karena pemiliknya malas, tapi karena ribetnya numpuk sampai akhirnya keskip.

Di sinilah Loonas hadir. Daripada buka aplikasi baru atau file Excel, kamu cukup chat — kayak chat ke temen. Foto struk belanjaan, kirim ke Loonas, langsung tercatat dan terkategorikan. Mau tahu rekap bulan ini? Tinggal minta: “Loonas, rekap Juni dong.” Pembukuan jadi sesuatu yang kamu lakukan sambil ngobrol, bukan tugas tambahan yang nunggu di akhir hari.

Yang penting tetap sama, mau kamu pakai buku, Excel, atau Loonas: uangmu kecatat, dan kamu tahu posisimu.

Mulai hari ini, bukan “nanti pas sempat”

Pembukuan yang paling bagus adalah yang benar-benar kamu jalani — bukan sistem paling canggih yang cuma jalan seminggu. Jadi mulai dari yang paling kecil:

Malam ini, sebelum tutup toko, tulis tiga hal: berapa uang masuk hari ini, berapa keluar, dan sisa di tanganmu. Besok, ulangi. Seminggu lagi, kamu udah punya gambaran yang sebelumnya cuma tebakan.

Kalau kamu pengen langkah ini terasa seringan ngobrol — itu persis yang lagi kami bangun di Loonas. Catat sambil chat, sisanya biar Loonas yang rapikan.

Tanya di WhatsApp