Tips Usaha 9 September 2026

Cara Mengatur Keuangan Online Shop Pemula (Biar Gak Boncos)

Jualan online tapi sering bingung uangnya ke mana? Ini cara mengatur keuangan online shop dari nol — praktis, tanpa ribet.

Ditulis oleh Tim Loonas
Ilustrasi artikel Cara Mengatur Keuangan Online Shop Pemula (Biar Gak Boncos)

Kamu udah rajin upload produk, sering live, pesanan masuk terus. Tapi pas akhir bulan, dompet terasa sama aja — bahkan kadang lebih tipis dari sebelum buka toko. Omzetnya ada, tapi entah perginya ke mana.

Kalau itu yang kamu rasain, ini bukan berarti jualanmu gagal. Ini tanda kamu perlu satu hal yang sering dilewat pelaku online shop: sistem keuangan yang rapi.

Kenapa online shop lebih rentan boncos

Jualan online punya godaan yang berbeda dari toko fisik. Modal bisa masuk kapan saja, pengeluaran bisa terjadi kapan saja — tengah malam pesan bahan baku, pagi bayar jasa desain, sore beli packing. Semuanya lewat transfer, sering dari rekening yang sama dengan uang pribadi.

Bedanya sama toko fisik yang kasirnya jelas: di online shop, aliran uangnya lebih “cair” dan lebih gampang bercampur. Kamu kirim uang ke supplier dari rekening yang sama dengan yang buat bayar tagihan listrik rumah. Akhirnya susah bedain mana uang toko, mana uang pribadi.

Dari situ masalah menumpuk pelan-pelan, tanpa terasa.

Langkah 1 — Pisahkan rekening toko dari rekening pribadi

Ini bukan hal yang terasa mendesak, tapi ini yang paling menentukan. Selama uang toko dan uang pribadi masih campur, kamu tidak akan pernah benar-benar tahu kondisi keuangan usahamu.

Buka satu rekening baru khusus toko — nama rekeningnya bisa atas nama kamu, tapi gunakan hanya untuk keperluan usaha. Semua pemasukan dari marketplace masuk ke sini. Semua pengeluaran toko — beli produk, beli packing, bayar iklan — keluar dari sini. Rekening pribadimu tidak mampir ke sana kecuali untuk “gaji” yang memang kamu tentukan sendiri.

Setelah pisah rekening, banyak pemilik online shop tiba-tiba bisa lihat lebih jelas: “Oh, ternyata biaya iklan aku udah segini tiap bulan?”

Langkah 2 — Catat semua pengeluaran, termasuk yang kelihatan kecil

Packing bubble wrap Rp 35.000, lakban Rp 12.000, ongkir yang kamu tanggung Rp 18.000. Satu-satu kelihatan kecil. Tapi kalau dijumlah sebulan, bisa makan 10–15% dari omzetmu.

Bikin kategori pengeluaran yang simpel:

  • Harga pokok produk — modal beli atau produksi barang yang kamu jual
  • Packing & pengiriman — dus, bubble wrap, lakban, ongkir yang ditanggung toko
  • Iklan & promosi — iklan berbayar di marketplace, endorse, iklan sosmed
  • Operasional lain — kuota internet, langganan tools, dll.

Kamu tidak perlu software mahal untuk ini. Yang penting dicatat setiap hari, bukan ditumpuk lalu panik di akhir bulan.

Langkah 3 — Hitung HPP dan margin sebelum menentukan harga jual

Banyak online shop menetapkan harga berdasarkan “kira-kira kompetitif” atau harga kompetitor — tanpa tahu apakah harga itu sebenarnya menguntungkan atau tidak.

HPP (Harga Pokok Penjualan) adalah semua biaya yang kamu keluarkan untuk menghasilkan atau mendapatkan satu unit produk, siap sampai ke tangan pembeli. Bukan cuma modal barangnya saja.

Contoh sederhana: kamu jual tas rajut seharga Rp 120.000.

Komponen biayaPer unit
Bahan baku (benang, aksesoris)Rp 35.000
Upah produksiRp 20.000
Packing (dus + bubble wrap)Rp 8.000
Ongkir ditanggung tokoRp 12.000
Biaya iklan (dialokasikan per unit)Rp 10.000
Total HPPRp 85.000

Harga jual Rp 120.000 dikurangi HPP Rp 85.000 = margin Rp 35.000 per unit, atau sekitar 29%. Itu sudah sebelum potongan komisi marketplace, yang biasanya 1–5%.

Setelah dihitung seperti ini, kamu tahu persis: harga segini untung atau cuma omzet?

Langkah 4 — Rekap mingguan, bukan cuma akhir bulan

Online shop transaksinya bisa ramai banget dalam satu minggu, terus sepi dua minggu. Kalau kamu baru rekap di akhir bulan, kamu kehilangan momen untuk merespons cepat.

Luangkan 10–15 menit setiap akhir pekan untuk hitung:

  • Total penjualan minggu ini berapa?
  • Total pengeluaran berapa?
  • Sisa bersihnya berapa?

Ini bukan harus laporan formal. Bisa di catatan HP, bisa voice note ke diri sendiri, bisa chat ke asisten pembukuanmu. Yang penting kamu tahu posisinya, dan bisa ambil keputusan: perlu kurangi pengeluaran? Perlu nambah stok produk tertentu? Perlu stop iklan yang tidak menghasilkan?

Langkah 5 — Tentukan “gaji” kamu sendiri

Ini yang sering paling susah. Banyak pemilik online shop tidak pernah menentukan berapa “gaji” mereka dari usaha. Uang toko jadi uang bersama yang diambil sesukanya.

Tentukan nominal tetap yang kamu ambil setiap bulan sebagai pemilik — misalnya Rp 2 juta, Rp 3 juta, atau berapapun sesuai kondisi usaha. Transfer nominal itu ke rekening pribadimu secara rutin. Uang yang tersisa di rekening toko adalah modal usaha, bukan uang jajanmu.

Cara ini bikin kamu lebih disiplin, dan bikin pembukuan jauh lebih bersih. Soal cara pisah gaji dan laba usaha ini, ada artikel tersendiri yang bisa kamu baca untuk detailnya.

Mulai dari mana hari ini?

Kalau kamu merasa ini banyak dan berat — mulai dari yang satu dulu: pisahkan rekening toko dari rekening pribadi hari ini. Langkah satu itu saja sudah mengubah banyak hal.

Untuk pencatatan hariannya, kamu bisa mulai chat ke Loonas di WhatsApp. Foto struk belanja bahan, chat nominal penjualan hari ini, minta rekap mingguan — semuanya bisa dari WhatsApp yang sudah kamu buka tiap hari. Gak perlu install apa-apa.

Omzetmu sudah kerja keras. Saatnya catatan keuanganmu ikut kerja keras juga.

Tanya di WhatsApp